Mempersiapkan Anak Menjadi Pecinta Alam

Kami adalah pasangan suami istri yang sama sama menyukai gunung, bahkan kami bertemu saat mendaki. Hobi kami yang sama membuat kami yakin bahwa saat memiliki anak maka kami harus mengenalkannya kepada indahnya alam ciptaan Allah ini. Namun kami tidak akan memaksakan hobi kami kepada anak kami, alhamdulillah ternyata si kecil pun sangat menyukai jalan jalan ke alam.

Bagi yang tidak biasa membawa anak ke alam, mungkin akan berfikir “wah tega banget orang tuanya, masih balita diajak naik gunung” atau “ga sakit apa nanti anaknya?” atau banyak lagi ungkapan yang seperti menyatakan bahwa orang tua yang membawa balita naik gunung adalah orang tua yang tidak kompeten dan mementingkan keinginan sendiri. Saya pun pernah mengalami hal tersebut. Ketika kami ke gunung Rinjani, seorang guide berkomentar kepada turis bahwa kami adalah orang tua yang tidak baik karena balita sekecil itu tidak seharusnya dibawa ke gunung, belum cukup umur dan sebagainya.

Sayangnya mereka semua hanya berkomentar tanpa mengetahui persiapan yang dilalui si kecil sebelum akhirnya diajak mendaki. Percayalah bahwa jarang sekali ada orang tua pendaki yang akan mengajak balitanya mendaki tanpa adanya persiapan yang matang.

Tulisan saya kali ini adalah bagian dari Share Your Parenting Story, blog competition yang diadakan oleh Ibupedia.com, saya ingin membagi cara bagaimana kami mempersiapkan si kecil untuk menjadi pecinta alam.

Pertama: Pastikan bahwa si kecil siap untuk tidur di tenda dan tidak bosan saat ada di alam.

Saat si kecil sudah bisa duduk kami mulai mengenalkannya dengan alam dan tenda. Kami menunggu hingga dia bisa duduk dan bermain sendiri untuk mulai mengenalkannya dengan dunia perkemahan. Alasan kami menunggu adalah karena kami ingin dia sudah bisa memainkan apapun yang ada di hadapannya. Ada orang tua yang memulai dari usia beberapa bulan tapi bagi kami itu terlalu cepat karena si kecil hanya akan tidur dan tengkurap tanpa bisa explore apa yang ada di sekitarnya.

Di usia belum 1 tahun, kami mengajak si kecil untuk berkemah di Loji Suaka Elang. Di tempat ini kami mengamati bagaimana reaksi dia terhadap alam terbuka.

Alhamdulillah si kecil langsung menyukai alam terbuka, mungkin memang sudah mengalir di darahnya karena kedua orang tua juga mencintai aktivitas di alam. Dia bersemangat sekali menyentuh batu, ranting dan daun daun yang ada di sekitarnya. Saat bosan dengan batu, daun dan ranting, dia mulai memainkan segala perlengkapan yang kami bawa, semacam sendok dan nesting. Terlihat di wajahnya bahwa dia menikmati berada di alam yang sejuk dan menyegarkan.

Saat tidur, kami tidak menyediakan kasur kecil untuknya karena kami ingin mengamati bagaimana dia bisa tertidur hanya dengan beralaskan sleeping bag. Alhamdulillah dia tertidur nyenyak dan tidak rewel. Terbangun di tengah malam hanya untuk nenen seperti biasa saat tidur di kasur di rumah.

Selama berkemah 2 hari 1 malam, si kecil sama sekali tidak rewel. Menangis hanya saat minta nenen.

Selanjutnya adalah saat mengamati apakah si kecil akan demam karena kelelahan atau sebab sebab lain saat di ajak ke alam. Alhamdulillah dia sama sekali tidak demam maupun lelah, yang terjadi malah kami yang kelelahan tapi dia masih semangat mengajak bermain.

Kedua: Persiapkan segala keperluan si kecil.

Sebelum berangkat, kami harus double atau triple check apakah segala keperluan si kecil sudah dibawa. Berikut yang biasa kami siapkan:

  1. Popok
    Saat masih memakai popok, kami harus menghitung pasti berapa popok yang dibutuhkan selama ada dalam tenda. Selalu siapkan popok extra.
  2. Termometer
    Kami selalu membawa termometer saat berkemah karena alat ini penting untuk memastikan apakah si kecil demam atau kedinginan.
  3. Obat-obatan dan Minyak
    Paracetamol anak adalah obat wajib yang selalu kami siapkan. Selain paracetamol, kami siapkan segala minyak yang biasa dipakai si kecil.
  4. Pakaian
    Pakaian adalah bagian yang harus dihitung berkali-kali karena kami harus memastikan si kecil tidak kedinginan dan selalu ada extra baju. Saat kami naik gunung atau berkemah lebih dari semalam, kami menyiapkan pakaian secara paketan. Celana, celana dalam, singlet, kaos tangan pendek, kaos tangan panjang – semua digulung menjadi 1 dan diikat. Paket seperti itu dibuat sesuai lamanya hari saat ada di alam. Lalu siapkan 2 paket extra. memang biasanya tas berisi pakaian si kecil akan lebih banyak dibandingkan pakaian ayah dan ibunya. Dan tentunya jangan lupa kaos kaki yang banyak
  5. Selimut
  6. Air bersih.
    Kami yang tua bisa meminum air sungai dan air dari alam, namun si kecil kami pastikan mendapat air mineral karena belum yakin bahwa perutnya siap dengan air sungai.

Selalu cek keperluan si kecil berkali kali dengan membayangkan berapa hari si kecil akan ada di alam.

Ketiga: Persiapan naik gunung

Berkemah 2 hari 1 malam berbeda dengan membawa si kecil naik gunung karena ketinggian gunung memiliki tekanan dan kadar oxygen yang berbeda. Mulailah dari gunung yang pendek agar dapat mengamati reaksi si kecil. Jangan tiba-tiba membawa si kecil naik gunung dengan ketinggian 3000mdpl. Gunung pertama anak kami adalah gunung Papandayan, tidak terlalu tinggi dan tidak membutuhkan waktu mendaki yang lama. Kami amati si kecil dengan seksama. Alhamdulillah, dia sangat menikmati perjalanan dan saat saat berkemah di gunung yang lumayan dingin.

Gunung selanjutnya adalah gunung Prau yang terkenal sangat dingin. Tapi saat itu musim hujan sehingga kami memutuskan untuk mengajaknya tektok alias naik dan langsung turun tanpa berkemah. Disinilah saatnya orang tua tidak menjadi egois, jika alam tidak memungkinkan untuk si kecil maka jangan memaksakan diri. Balita belum dapat mengatakan dia kedinginan atau hypothermia jadi orang tua harus benar benar bisa membaca situasi.

Belum genap 2 tahun, kami membawa si kecil ke gunung Rinjani. Persiapannya cukup panjang. Kami menetap 2 hari di Sembalun agar si kecil terbiasa dengan dinginnya hawa Lombok. Setelah terbiasa barulah kami mulai pendakian. Pendakian berlangsung 5 hari 4 malam. Kami amati dulu si kecil pada hari pertama dan malam pertama, apakah dia cukup kuat dan menikmati perjalan panjang yang akan dia lalui. Alhamdulillah semua terlihat aman dan kami percaya dia bisa melalui 5 hari 4 malam.

Si kecil benar benar membuat kami takjub, seminggu lebih di Lombok dengan 5 hari pendakian yang disusul dengan main di laut sebelum pulang dan dia sama sekali tidak demam. Tetap semangat dan sehat.

Pada tahap inilah kami yakin dia siap mengikuti jejak orang tuanya.


Karena sudah terbiasa dengan tenda, si kecil ini jadi sangat bersemangat jika melihat tenda walaupun bukan tendanya. Kami pernah melakukan one day trip dan tidak berkemah sama sekali tapi saat dia melihat banyak tenda, dia langsung masuk ke tenda orang. Bahkan saat liburan terlalu lama di rumah, dia mulai mengoceh “Ibu, aku mau ke gunung

Karena situasi yang tidak memungkinkan (karena pandemi), kami belum sempat mengajaknya untuk naik gunung lagi namun kami tetap membawanya ke alam, air terjun atau kebun raya yang biasa dia sebut hutan. Beberapa hari lalu, kami membawanya untuk berkemah di daerah Sukabumi. Saat melihat tenda dikeluarkan dari lemari untuk di packing, dia langsung memeluk tenda dengan senangnya dan berkata “Kita mau ke gunung? atau ke hutan?

Alhamdulillah, perkenalan alam kepada buah hati kami berlangsung lancar dan saat ini dia sudah cukup kuat berjalan sendiri dengan jarak lumayan jauh. Menunggu saat yang tepat untuk dapat mendaki lagi tanpa harus menyewa baby carrier.


Inilah yang dapat saya share ke ibupedia dan parents lain tentang menyiapkan anak mencintai alam. Semoga bermanfaat dan jangan lupa untuk mengajarkan membawa pulang semua sampah saat naik gunung maupun berkemah.

6 thoughts on “Mempersiapkan Anak Menjadi Pecinta Alam

    1. Hi Karel, this post is about parenting. It’s a blog competition I decided to join. I shared how to prepare a toddler for hiking 🙂

      My family is safe and well, I hope it goes the same to you and your family

      1. I see my typo now. I mean to say it looked like you ADDED to your family. Your children are beautiful! Yes, we are well, and I’m glad you are, too.

        1. Aaah I see. No, that’s Anka’s baby picture.

          We have tried twice and I have 2 miscarriages, so we stop trying even though Anka loves to have a sibling

          1. I’m sorry to hear of the miscarriages. Sometimes they don’t mean “never,” it just means “not now.” I am glad that you are happy with your son and husband!

          2. Thank you Karel 🙂

            I know, we never know that maybe though unplanned, a sibling might come one day…but so far yes, we are happy as a family of there

Say something so I know you have read my post, THANK YOU for reading :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s